Oleh Dennis Field, LG#072. Bahasa Indonesia oleh Triyan W. Nugroho.
Linux memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan Windows. Linux lebih stabil, lebih murah (gratis, jika anda bisa mendownloadnya sendiri), tersedia dengan ribuan software bebas dan akan berjalan dengan senang hati pada sistem yang terlalu kecil untuk Windows. Jadi, mengapa Linux tidak digunakan pada kebanyakan PC di dunia?
Beberapa orang akan mengatakan bahwa permasalahannya adalah Linux terlalu susah digunakan. Linux yang hanya berisi command-line sudah pasti bukanlah untuk semua orang, tetapi distribusi modern sekarang ini sudah memiliki fitur-fitur self-mounting CD, fungsionalitas drag & drop, dan kemudahan-kemudahan yang lain. Memang masih ada beberapa tepi yang masih kasar yang harus dihaluskan, namun untuk kebanyakan peselancar web atau pekerja kantor, desktop Gnome atau KDE hanya berbeda sedikit dengan Windows. Jadi lagi-lagi, mengapa tidak banyak orang yang menggunakan Linux? Mungkin pengalaman saya akan membantu menjelaskannya. Cerita yang akan anda baca ini adalah sebuah kisah nyata, hanya beberapa nama telah diganti untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Saya bekerja pada sebuah toko buku berukuran sedang (20 pekerja, 2.5+ million setahun). Kami sekarang masih menggunakan sebuah sistem Point of Sale tua berbasis DOS, tetapi tahun depan kami akan menggunakan sistem yang berbasis web. Karena sistem ini membutuhkan PC yang bisa menjalankan Windows XP untuk setiap cash register, ini adalah sebuah investasi yang sangat besar bagi kami. Bagaimanapun, saya memperkirakan kami bisa menghemat 300-400 dollar per terminal untuk lisensi dan pengurangan harga hardware dengan menggunakan Linux. Saya juga membutuhkan sebuah portable workstation untuk meja kerja saya (saya mencoba untuk mengembangkan sebuah surat kabar email untuk toko kami). Sehingga saya memutuskan untuk membeli sebuah laptop dan menginstal Linux ke dalamnya. Saya pikir ini adalah kesempatan untuk belajar Linux lebih dalam lagi bagi saya sendiri dan untuk menunjukkan Linux kepada semua orang di kantor - mencoba memperkenalkan sistem operasi non-Windows kepada manajer. Kemudian, ketika sistem POS kami yang baru telah siap untuk demonstrasi penjualan (beta test), saya telah memiliki sebuah workstation Linux yang siap untuk dihubungkan dengannya. Karena sistem tersebut dirancang agar berbasis web, saya berharap satu atau lebih web browser yang umum di Linux bisa berantarmuka dengannya secara baik. Apakah server di kantor kami akan menggunakan Apache web server adalah sebuah pertanyaan lain, namun individual terminal di seluruh toko kami pastilah menggunakan web browser.
Saya memulai dengan mencari distribusi Linux yang berbeda, dan dengan cepat menunjuk kepada salah satu nama terbaik di Linux, karena mereka menjanjikan server/dukungan credit card processing yang aman (yang dibutuhkan untuk cash register kami yang berbasis web) dan secara aktif menekan sebuah service bulanan dan kontrak dukungan. Sistem POS kami benar-benar menjalankan keseluruhan toko, sehingga kami tidak bisa hanya mengunci pintu dan mengantarkan semua orang pulang ketika kami mengalami permasalahan teknis. Saya akan menamai distribusi ini “Linux Komersial”, karena pasar itulah yang jelas-jelas mereka tuju.
Karena tidak mampu membeli sebuah laptop baru, saya mulai mencari di eBay dan akhirnya menemukan sebuah IBM Thinkpad tua dengan harga dibawah 200 dollar (rendahnya harga ini dikarenakan tidak adanya CD-ROM drive). Pencarian cepat di Google menunjukkan kepada saya begitu banyak orang yang menggunakan Linux dengan selera yang berbeda-beda pada model laptop yang baru saja saya dapatkan. Saya baru saja mengetahui bahwa Linux secara umum dapat diinstal dengan setengah lusinan cara yang berbeda - intinya, anda bisa saja menghubungkan sebuah benang basah di antara dua monitor dan menginstal Linux ke dalamnya - tetapi sebelum memutuskan untuk membeli, saya mengecek “Linux Komersial” dan meyakinkan bahwa CD-ROM tidak berada pada daftar kebutuhan sistem. Saya juga membeli sebuah PCMCIA Ethernet card, lagi-lagi setelah mengecek pada “Linux Komersial” Hardware Compatibility List dan menemukannya sebagai sebuah kartu Ethernet yang “didukung dan mudah diinstal”.
Saya menginstal “Linux Komersial” pada PC desktop di rumah dan begitu kagum dengan software tersebut. Fitur Plug & play-nya hampir-hampir mengalahkan Microsoft, desktop yang benar-benar bertambah baik, dan sebagainya. Printer setup telah menjadi lebih lancar dengan petunjuk-petunjuk yang lebih baik, namun setelah beberapa kali mencoba baru saya bisa melakukan print dengan Linux. Saya mengeset sebuah ftp server, menyalin file instalasi ke dalamnya dan dengan percaya diri mencoba untuk menginstal “Linux Komersial” ke dalam laptop yang baru saja saya dapatkan.
Rencana A: Saya menghubungkan desktop dan laptop dengan menggunakan sebuah kabel Ethernet dan memasukkan PCMCIA boot disk ke dalam laptop. Saya segera menemukan bahwa 3com PCMCIA card telah didukung oleh kernel Linux, tetapi tidak oleh PCMCIA boot disk. Di situs web “Linux Komersial” maupun di manual instalasinya yang begitu cantik sama sekali tidak terdapat daftar kartu jaringan yang didukung oleh PCMCIA boot disk.
Rencana B: “Linux Komersial” pada desktop saya berisi sebuah PLIP server dan boot disknya berisi sebuah PLIP driver. Lalu saya menghubungkan port paralel dengan kabel laplink dan mencoba melakukan network install. Tebak apa yang terjadi? “Linux Komersial” tidak menyediakan petunjuk apapun mengenai bagaimana caranya melakukan network install. Website mereka juga tidak menerangkan hal ini, demikian juga dengan buku petunjuk instalasinya. Dan jika anda mengirimkan email kepada mereka mengenai hal ini, anda akan diberitahu bahwa customer support yang diberikan selama dua bulan (seharga 80 dollar) tidak termasuk network install. Sehingga saya menghabiskan waktu selama satu minggu untuk mencoba setiap opsi dan konfigurasi yang mungkin yang terlintas pada pikiran saya, dan sama sekali tidak mendapatkan sedikit pun koneksi. Yang terjadi adalah firewall milik “Linux Komersial”, yang diset secara default oleh software instalasi, mungkin memutuskan koneksi. Tebaklah apa yang terjadi? Program firewall “Linux Komersial” tidak menyediakan petunjuk apapun mengenai bagaimana cara mengkonfigurasi firewall. Saya melakukan search “firewall” pada website “Linux Komersial”. Daftar hasil pencarian yang muncul adalah informasi umum dari tiga versi software, tanpa instruksi apapun yang berguna. Saya menyerah dan menginstal kembali desktop Linux saya tanpa firewall. Kembali saya mencoba setiap opsi dan konfigurasi yang mungkin yang terlintas di pikiran saya pada PLIP server (yang - kejutan besar - juga tidak memiliki instruksi) dan tetap tidak bisa masuk ke jaringan. Setelah melakukan pencarian di Internet, akhirnya saya menemukan sebuah website third party yang menyebutkan bahwa “Linux Komersial” sudah tidak lagi mendukung PLIP install (kenyataan ini telah saya konfirmasikan dengan menelepon mereka, tetapi belum pernah saya temukan dimanapun pada website “Linux Komersial”).
Rencana C: Saya bisa saja menggunakan kabel Laplink yang saya percaya untuk menyalin file instalasi ke dalam laptop dan melakukan hard drive install. Kedengarannya begitu jelas, ya? Bagaimanapun, ketika saya mencobanya, saya menemukan beberapa hal: Jika kebanyakan distribusi Linux mengijinkan anda untuk menyalin secara langsung struktur direktori ke dalam harddisk, “Linux Komersial” mengharuskan anda menyalin sebuah file image ISO9660 yang berisi keseluruhan CD instalasi ke dalam harddisk. Biar kedengaran semakin buruk, “Linux Komersial” meletakkan beberapa paket yang dibutuhkan pada CD kedua. Sehingga anda harus menyalin file instalasi sekitar 1.4 GB! (Windows 98SE membutuhkan kurang dari 400MB, distribusi Linux yang lain membutuhkan kurang dari 100MB file instalasi untuk sebuah sistem desktop yang lengkap). Dalam kasus yang saya alami, laptop tersebut, yang melebihi kebutuhan sistem, tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyimpan file instalasi “Linux Komersial” dan sistem operasi Linux pada satu waktu. Dengan resiko terlalu dianggap melebih-lebihkan, prosedur yang dibutuhkan, daftar file yang dibutuhkan, ataupun kebutuhan spasi harddisk, semuanya tidak diterangkan pada website “Linux Komersial” maupun manual instalasinya. Dan ketika saya menelepon untuk menanyakan hal ini kepada mereka, orang dari Customer Service memberikan informasi yang salah kepada saya. Untuk mengisi kekosongan sistem operasi di laptop, akhirnya saya mencoba Windows. Saya belum pernah melakukan hard drive install untuk Windows, namun saya menyalin secara langsung file cab, mengklik “install” dan Windows menginstalasi dirinya sendiri dengan tanpa kesulitan.
Sementara itu, saya bermain dengan “Linux Komersial” pada desktop. CD distribusinya berisi tiga versi yang berbeda dari StarOffice: tidak satupun yang terinstal dengan baik. Tidak ada informasi pada website mereka, juga untuk permasalahan lain mengenai StarOffice, dan bagaimana untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pencarian cepat di web menunjukkan beberapa pengguna “Linux Komersial” lain yang berang yang mengatakan bahwa StarOffice tidak kompatibel dengan rilis terakhir “Linux Komersial”. Saya mencoba pengolah kata yang lain (yang ada di dalam CD distribusi). Yang satu ini terinstal dengan baik, tetapi segera setelah saya menjalankannya, program tersebut mengunci komputer saya secara keseluruhan - keyboard dan semuanya. Warm boot pada PC telah menghancurkan file system sedemikian parah sehingga Linux tidak dapat melakukan boot! Sampai di sini saya mulai menduga bahwa “Linux Komersial” tidak pernah menghiraukan untuk sekedar mengetes software third party yang mereka pasarkan untuk melihat apakah software tersebut bekerja pada sistem operasi mereka!
Semuanya telah terbukti, saya menanyakan lima pertanyaan instalasi kepada “Linux Komersial”. Saya telah mendapatkan keseluruhan tiga jawaban yang salah, satu penolakan bahkan untuk sekedar mendiskusikan persoalan yang saya alami, dan satu kesalahan dalam mengembalikan email. Dan ini bukan hanya untuk “Linux Komersial”. Saya telah mengirim email kepada empat distribusi Linux lainnya, bertanya apakah mereka mendukung hard drive install. Dua dari mereka sama sekali tidak merespon, yang ketiga membalas dengan mengatakan bahwa mereka menolak untuk menjawab segala pertanyaan kecuali saya memberikan nomor registrasi kepada mereka. Hanya satu distribusi Linux yang meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan saya. (Tebaklah distribusi mana yang akan saya beli lain kali?)
Kebalikannya, IBM telah melaksanakan tugasnya dengan baik dalam hal menyediakan dukungan terhadap laptop Thinkpad. 760E yang saya miliki, dibuat pada masa transisi antara Windows 3.x dan 95. Website IBM memiliki satu set device driver yang lengkap untuk kedua sistem operasi (termasuk software patch untuk 98), dokumentasi yang lengkap, petunjuk instalasi dan troubleshooting, serta sebuah mesin pencari yang akan mencarikan apa yang anda butuhkan - semuanya tersedia dengan bebas untuk didownload.
Dalam beberapa hal, Linux telah memiliki dokumentasi yang lebih baik daripada yang Windows pernah pikirkan. Ada internal manual (”man pages”) yang menyatu dengan Linux. Ada banyak sekali petunjuk eksternal (”HOWTO”) yang ditulis oleh pengguna yang telah berpengalaman, menjelaskan bagaimana untuk melakukan segala hal dengan Linux. Setiap distribusi yang peduli akan hal tersebut bisa mengumpulkan berbagai sumber informasi tersebut dan menyediakan file help yang diperluas dan dikustomisasi (spesifik untuk distribusi mereka) untuk menjawab pertanyaan umum mengenai operasi program, pengesetan server, dan sebagainya. Rupanya ide ini tidak pernah terpikir oleh setiap orang.
Mungkin ini karena Linux secara tradisional telah terjual kepada orang yang bergelut dengan komputer. Orang yang menikmati bermain-main dengan komputer sebagai sebuah hobi, atau seorang administrator UNIX yang berpengalaman. Maka dari itu, saya percaya bahwa banyak orang yang membuat distribusi Linux telah jatuh ke dalam sebuah pemikiran praktis: “Oke, kami meletakkan software ke dalam CD untuk anda. Bukanlah menjadi perhatian kami apakah software tersebut bisa bekerja atau anda memiliki informasi yang anda butuhkan untuk menggunakannya. Kami mengerjakan bagian kami sendiri. Sekarang kirimi kami uang”. Orang-orang tersebut kemudian heran, mengapa mereka tidak berhasil menjual Linux ke masyarakat umum atau ke bisnis kecil.
Bumi memanggil Vendor Software! Tidak ada hasil yang baik untuk mendistribusikan software anda jika ia tidak bisa bekerja atau jika konsumen anda tidak memiliki detail dasar yang dibutuhkan untuk menjalankannya. Ini adalah beberapa ide yang liar dan radikal untuk vendor Linux: pertama, tes software sebelum anda merilisnya! Mungkin suatu hal yang tidak mungkin untuk mengetes setiap video driver, namun pastilah memungkinkan untuk mengetes apakah software yang anda pasarkan terinstal pada direktori yang benar dan tidak memiliki inkompatibilitas yang jelas dengan sistem operasi. Saya yakin banyak vendor yang berusaha untuk melakukannya, namun kemudian terjebak di antara tuntutan testing yang teratur untuk menjamin reliabilitas dan berusaha untuk mempercepat keluarnya software yang terakhir dan terbaik. Tetapi sebagai pengguna yang berorientasi bisnis, saya lebih memilih untuk menunggu beberapa minggu lebih lama untuk rilis software dan mendapatkan semuanya bekerja jika vendor yang lebih kecil tidak memiliki resource yang diperlukan untuk testing yang komprehensif. jadi mohon A) catat software apa saja yang belum dites, dan B) jika memungkinkan, masukkan prosedur instalasi secara umum, path direktori, dan sebagainya, sehingga pengguna mempunyai beberapa peluang untuk memperbaiki paket yang tidak terinstal dengan benar.
Yang kedua, sediakan dokumentasi yang memadai! Ijinkan saya menantang vendor untuk melakukan tes yang sederhana: Letakkan sebuah laptop pada komunitas kampus lokal anda. Pergilah ke dalam gedung Ilmu Komputer dan pilihlah tiga atau empat mahasiswa dengan acak siapa yang TIDAK mengenal Linux. Ajaklah untuk membelikannya pizza jika mereka bisa menginstal dan/atau mengoperasikan beberapa software untuk anda (berdasarkan hanya dengan dokumentasi apapun yang anda sediakan kepada konsumen anda). Jika mereka tidak bisa setidaknya untuk mulai memegang kendali atas software tersebut sampai pizza telah masak, maka ANDA tidak menyediakan informasi yang cukup! Tidak, saya TIDAK berbicara tentang “Tuntunan ke Linux” yang lain. Linux sendiri telah terdokumentasi dengan baik. Distribusi individual, bagaimanapun, menyediakan informasi yang cukup untuk anda menginstalnya - setelah itu, pikirkan sendiri. Dan kebanyakan aplikasi Linux memasukkan file header yang mengatakan untuk apa program tersebut, tetapi memberikan sedikit, jika ada, petunjuk mengenai bagaimana cara agar program tersebut melakukannya. Hampir semua template software modern memasukkan tempat untuk file help umum dan help yang context-sensitive. Sedikit programmer yang menggunakannya. Jika beberapa vendor Linux terbesar membuat sebuah aturan untuk tidak menerima software third party kecuali software tersebut menyediakan dokumentasi built-in dasar, mereka bisa meningkatkan penghalang untuk keseluruhan komunitas Linux.
Oh, dan laptop saya? Saya mendownload sebuah distribusi kecil dari Internet, saya memanggilnya “Mom & Pop Linux”, yang mengerti apa hard drive install itu. Bukannya sebuah Manual Instalasi yang dilayout oleh desainer grafis; mereka memiliki sebuah Linux “HOWTO” khusus, yang merupakan empat halaman teks catatan yang friendly. Dengan mengikuti petunjuk tersebut, Linux terinstal dengan sempurna pada laptop saya. Well, hampir sempurna. Boot loader pada “Mom & Pop Linux” tidak bekerja. Dan juga, rupanya mereka beralih dari tarbal ke RPM dan, mungkin sebagai hasilnya, saya tidak dapat memuat program baru apapun ke dalam laptop. Sigh. Bisa memboot komputer dan menginstal program adalah dua hal yang sangat saya harapkan dalam sebuah sistem operasi. Tetapi saya setidaknya telah membuktikan bahwa Linux bisa beroperasi di dalam Thinkpad.
Saat ini, saya telah menghabiskan dua bulan di belakang proyek saya di kantor. Mencari lewat website IBM, saya menemukan bahwa penambahan sebuah docking station akan membuat laptop saya memiliki sebuah (non-bootable) CD-ROM drive dan sebuah (bootable) floppy pada waktu yang bersamaan. Sedikit belanja lagi di eBay dan saya menemukan hardware yang diperlukan. Ini menghabiskan anggaran 50% lebih, tetapi setidaknya saya akan mempunyai sebuah laptop Linux yang fungsional!! Dengan gembira saya menginstal “Linux Komersial” dari CD mereka, setelah mengetahui setting yang benar untuk setup X Window dari “Mom & Pop Linux” yang terdahulu. Tebak apa yang terjadi?? X Server pada “Linux Komersial” tidak bisa bekerja pada laptop saya. Mereka memasukkan video chipnya sebagai dalam daftar yang didukung. Saya mengecek kembali semua setting, namun yang saya dapatkan ketika saya mengetikkan “startx” adalah satu setengah halaman pesan kesalahan. Berdasarkan pengalaman saya dengan “Linux Komersial”, saya hanyalah mempunyai sedikit harapan untuk menemukan informasi yang dibutuhkan untuk memperbaiki permasalahan tersebut pada website mereka. Dan technical support mereka tidak akan mau berbicara dengan saya, karena dukungan instalasi 60 hari yang saya dapatkan telah kadaluarsa.
Sejauh yang menjadi perhatian toko buku kami, saya belum mempercayai Linux untuk menjadi alternatif bagi bisnis kecil. Jika memang ya, saya ragu bisa meyakinkan manager bahwa “Linux Komersial” mampu mensupport jaringan di kantor kami, karena mereka telah membuktikan ketidak mampuan mereka untuk mensupport instalasi pada sebuah IBM Thinkpad!
Sudah cukup aneh, saya masih percaya bahwa Linux adalah sebuah sistem operasi yang baik, dan saya melanjutkan pencarian distribusi yang fungsional. Tetapi sejauh ini, satu-satunya sistem operasi yang benar-benar beroperasi pada Thinkpad yang saya miliki adalah Windows. Saya lebih memilih untuk menjalankan Linux (sekali Windows XP menjadi dominan, saya akan menjalankan Linux pada laptop atau membuangnya). Saya percaya ada banyak orang bisnis yang juga lebih suka menjalankan Linux. Tetapi ini tidak akan terjadi sampai beberapa vendor Linux bersama-sama beraksi.
Ijinkan saya menawarkan sebuah analogi: Bayangkan anda sedang mencari sebuah mobil, dan anda mendengar tentang mobil sport baru yang bagus yang memiliki 50MPG dan hanya berharga 5000 dollar! Tetapi ketika anda akan membelinya, anda diberitahu bahwa mobil tersebut tidak memiliki ban, dan tidak ada alternator (sehingga anda harus mencari cara lain untuk mempertahankan baterai agar selalu terisi) dan juga, jangan mengendarainya terlalu cepat karena remnya tidak bekerja. Dan jika mobil ini rusak, anda harus mencari suku cadang sendiri dan mencoba untuk memperbaikinya sendiri, karena dealer yang menjual mobil tersebut menolak untuk memperbaikinya. Akankah anda membeli mobil tersebut? Lebih penting lagi, akankah anda merekomendasikan mobil tersebut kepada seseorang yang membutuhkan transportasi yang bisa diandalkan untuk pergi ke kantor besok? Apakah hal tersebut kedengaran menarik? Itulah yang banyak vendor Linux katakan kepada orang yang membeli software mereka. Kembali pada analogi otomotif, vendor tersebut akan mengkomplain dengan keras bahwa Chevrolet melakukan kecurangan karena mereka meletakkan radio pada mobil mereka sebagai sebuah peralatan standar. Mungkin orang tidak akan membeli Chevy karena mereka memiliki ban dan dealer mau memperbaiki kerusakan! Begitu juga, mungkin orang juga akan membeli Windows karena ia bisa bekerja di mesin manapun (well, kebanyakan bisa bekerja…), dan Microsoft setidaknya mencoba untuk memberikan dukungan ketika Windows tidak bisa bekerja.